Tahukah kamu? Alasan di Balik Self-Harm
Tahukah kamu? Alasan di Balik Self-Harm
Tujuan Seseorang Melakukan Self-Harm
Meluapkan rasa marah
Sebagai bentuk konkrit dari emosi distress
Sebagai bentuk penghukuman diri
Sebagai bentuk distraksi atau pengalihan dari luka emosional
Untuk membuat perasaan individu lebih baik dan meredakan tekanan emosional
Penting untuk diketahui:
"Merasa lebih baik dan puas setelah melakukan self-harm hanyalah efek sementara, bukan solusi untuk tekanan emosional yang dialami"
Faktor Penyebab Self-Harm
Lima dimensi yang menjadi pemicu individu melakukan tindakan self-harm:
Dimensi lingkungan
Konflik interpersonal, kehilangan hubungan, rasa frustrasi, isolasi sosial, tekanan performance, dan peristiwa-peristiwa yang dapat memunculkan trauma.
Dimensi biologis
Kemungkinan individu melukai diri sendiri karena memiliki kelainan dalam otak sehingga cenderung mencari kepuasan dengan melukai dirinya.
Dimensi kognitif
Pandangan, pemikiran dan keyakinan yang dapat menjadi pemicu perilaku melukai diri, misalnya interpretasi terhadap peristiwa dialami, dan kognisi yang berhubungan dengan trauma yang pernah dialami.
Dimensi perilaku
Merujuk pada tindakan yang dianggap dapat menjadi pemicu untuk melukai diri, misalnya peristiwa yang bisa membuat individu menjadi tertekan, malu, takut dan layak mendapatkan hukuman.
Dimensi afektif
Kecemasan, rasa tertekan dan panik, kemarahan, depresi, malu, rasa bersalah, dan kebencian.
Faktor-faktor Self-Harm
Kekerasan Semasa Kecil sehingga Membentuk Trauma pada Diri Individu
Alexitymia, Individu Kesulitan untuk Mendeskripsikan Emosinya dan Tidak Dapat Mengungkapkan Perasaannya Secara Verbal
Lingkungan yang Memperlihatkan Perilaku Self-Harm
Sosial Media dan Situs yang Memudahkan Individu untuk Mengakses Bentuk Perilaku Self-Harm
Strategi Coping yang Negatif
Kurangnya Komunikasi yang Baik dengan Orang Terdekat
Bullying dan Masalah di Lingkungan Pertemanan
Masalah Percintaan
Stres yang Tidak Berkesudahan
Faktor Penyebab Self-Harm sebagai Ekspresi Emosi
Permasalahan yang terjadi di dalam keluarga baik berupa kekerasan verbal maupun fisik, peraturan di keluarga yang mengurangi ruang berpendapat seseorang, kurangnya komunikasi yang baik antar anggota keluarga, ataupun faktor hereditas.
Grief atau kehilangan sosok yang berarti dalam hidup seorang individu sehingga membuatnya kehilangan motivasi untuk bertahan dari tekanan yang ada.
Perasaan kosong dan sendiri.
Kesulitan dalam mengatur emosi distress yang ada.
Rendahnya self-esteem.
Faktor Risiko Self-Harm
Faktor Psikologis
Faktor risiko yang berkaitan dengan kondisi psikologis individu meliputi riwayat self-harm sebelumnya, adanya tekanan atau distress psikologis, serta pengalaman menjalani perawatan psikiatri. Selain itu, riwayat penggunaan obat-obatan psikiatri juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya self-harm berulang pada remaja.
Faktor Psikososial
Faktor yang berhubungan dengan lingkungan sosial, khususnya keluarga, salah satunya adalah pola asuh orang tua. Pola asuh seperti keterlibatan yang berlebihan, tuntutan yang tinggi terhadap anak, pemberian hukuman yang berat, perlindungan yang terlalu ketat, serta penolakan dari orang tua memiliki hubungan yang jelas dengan perilaku self-harm. Hubungan orang tua dan anak yang tidak harmonis, adanya kekerasan dalam keluarga, perceraian, maupun pernikahan kembali orang tua dapat memengaruhi kondisi mental remaja menjadi kurang sehat sehingga meningkatkan risiko self-harm.
Faktor Sosiodemografi
Angka kejadian self-harm pada remaja perempuan lebih tinggi dibandingkan remaja laki-laki. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan cara perempuan dalam menyelesaikan masalah yang cenderung lebih kompleks serta kurangnya dukungan sosial dari lingkungan sekitar. Kasus self-harm relatif lebih rendah sebelum masa pubertas, namun meningkat secara signifikan ketika remaja memasuki masa pubertas.
Siklus Self-Harm
Emotional distress > Emotional overload > Panic > SELF HARM >Temporary relief (ada dopamin yang dikeluarkan di otak yang menenangkan sesaat) > Shame and Guilt > Emotional distress
Mengetahui Dampak Self-Harm
Secara fisik
Tindakan Self-Harm dapat menyebabkan luka fisik berupa:
Rasa Nyeri
Iritasi Ringan hingga Cedera Parah
Bekas Luka (Muncul Jaringan Parut Permanen)
Infeksi dan Risiko Pendarahan
Secara psikologis
Individu yang melakukan self-harm cenderung:
Menarik Diri dari Lingkungan Sosial (Sulit untuk membangun dan mempertahankan hubungan dengan orang lain)
Merasa Rendah Diri dan Mengalami Perasaan Malu dalam Berinteraksi dengan Orang Lain
Kecemasan dan Depresi yang Lebih Parah
Peningkatan Risiko Bunuh Diri
Referensi
Anugrah, M. F., Karima, K., Puspita, N. M. S. P., Binti, N. A. A., & Mahardika, A. (2023). Self Harm and Suicide in Adolescents. Jurnal Biologi Tropis, 23(1), 200–207.
Fajaruddin, M., & Sahrul. (2024). Karakteristik Kesehatan Mental Remaja Dalam Perilaku Self Harm. Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan, 7(4), 1–13. https://doi.org/https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/cetta
Marlina, M., et al. (2025). Efektivitas Terapi Religius Coping dalam Mengatasi Self- Harm pada Mahasiswa. Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences, 3(1), 1-14.
Rini (2022). Perilaku Menyakiti Diri Sendiri: Bentuk, Faktor dan Keterbukaan Dalam Perspektif Perbedaan Jenis Kelamin. Jurnal Ikraith-Humaniora,6(1),115-123.